Senin, 06 Februari 2012

Cuaca Ekstrem di Eropa

JUMAT (3 Februari 2012)- Jumlah korban tewas akibat cuaca dingin ekstrem di kawasan Eropa dalam sepekan terakhir melonjak menjadi lebih dari 220 orang. Diperkirakan, suhu udara di Eropa masih akan turun lagi.

Kebanyakan dari mereka yang tewas adalah warga miskin atau penduduk pedesaan yang tinggal di rumah tanpa sistem pemanas yang memadai.

Tidak sedikit dari penduduk desa ditemukan tewas dalam keadaan membeku di pinggir jalan atau di dalam rumah mereka, yang tak memiliki sistem pemanas atau menggunakan mesin pemanas berteknologi lama, era bekas negara Uni Soviet.

Selain itu, sejak Kamis dilaporkan, jalur transportasi  menuju wilayah pedesaan terputus lantaran salju tebal. Akibatnya, ribuan orang terperangkap dan tidak bisa mengungsi.


Kondisi tersebut terjadi, antara lain, di Serbia. Diperkirakan, sedikitnya 11.000 orang terperangkap di desa-desa yang berlokasi di kawasan pegunungan.

Selain melumpuhkan transportasi dan memutus jalan, salju tebal memaksa ratusan sekolah di Bulgaria dan Polandia ditutup dan diliburkan.

Dari Ceko dilaporkan, hanya dalam waktu semalam temperatur udara anjlok menjadi minus 38 derajat celsius.

Temperatur rata-rata yang tercatat di sejumlah negara memang turun drastis dari suhu rata-rata bulan Februari. Pada siang hari saja, suhu rata-rata antara minus 16 dan minus 21 derajat celsius. sedangkan pada malam hari mencapai minus 25 hingga minus 30 derajat celsius.

Lebih lanjut, Kementerian Darurat Ukraina melaporkan, jumlah korban tewas akibat cuaca ekstrem di sana bahkan sudah mencapai 101 orang. Jumlah tersebut melonjak tajam dari catatan sebelumnya yang mencapai 63 orang.

Dari total korban tewas tadi diketahui 64 orang dari mereka tewas kedinginan di jalan. Otoritas terkait mengaku khawatir jumlah korban tewas masih bisa bertambah. Apalagi, mengingat sekitar 1.600 orang masih dalam perawatan lantaran menderita hipotermia dan radang dingin (frosbite).

Dilaporkan pula jumlah korban tewas akibat cuaca dingin di beberapa negara, antara lain Polandia mencapai 37 orang, Bulgaria mencapai 16 orang, dan di Italia tercatat tiga orang. Seperti juga di wilayah lain, angka tersebut dicemaskan masih bisa terus bertambah.

Lokasi penampungan

Warga miskin dan para gelandangan diketahui banyak menjadi kalangan yang paling menderita akibat kondisi cuaca ekstrem seperti ini. Kondisi itu dibenarkan Federasi Internasional Palang Merah (IFRC) dan Masyarakat Bulan Sabit Merah.

”Para tunawisma menjadi pihak yang sangat rentan lantaran mereka tidak pernah mengikuti informasi perkiraan cuaca dan mereka tidak punya tempat memadai untuk berlindung dari cuaca dingin,” ujar Zlatko Kovac dari IFRC perwakilan Belarusia dan Ukraina.

Untuk itulah kemudian lembaga-lembaga kemanusiaan ini ikut mendirikan tempat-tempat penampungan dengan pemanas, sekaligus juga memberikan makanan hangat, selimut, dan pakaian dingin.

Menurut Kovac, organisasinya mengeluarkan anggaran sebesar 100.000 euro dari dana darurat penanggulangan bencana.

Berikut beberapa foto-fotonya :







Semoga cuaca bisa kembali normal, dan semua warga maupun mahluk hidup lainnya mendapatkan perlindungan sementara yang layak.

sc : http://internasional.kompas.com/read/2012/02/04/03352522/Eropa.Dilanda.Cuaca.Dingin.Ekstrem
http://id.berita.yahoo.com/foto/salju-eropa-yang-jadi-bencana-1328522537-slideshow/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar