Jumat, 18 Maret 2011

ETOS KERJA SEORANG MUSLIM


Yang mendesak untuk segera dibangkitkan dari diri kaum muslimin adalah menyangkut etos kerja.

Gairah bekerja alias semangat bekerja mencari karunia ALLAH kurang menyertai umat Islam pada umumnya. Sehingga hanya sedikit dikalangan mereka yang sukses dibidang ekonomi, sementara sebagian besar aspek perekonomian masih dikuasi orang-orang di luar Islam.
Sebagai akibatnya, banyak dari kalangan umat islam yang menjadi “pengemis” kepada orang-orang di luar Islam. Ada yang tukang buat proposal, ada yang langsung berupa permohonan cash, ada yang pura-pura cari dana sumbangan dan beragam bentuk lainnya. Maka sudah saatnya, seorang muslim menyadari pentingnya mempunyai penghasilan yang besar.
Akhlak Seorang Muslim Saat Bekerja


Islam menuntut kita untuk menghargai waktu setinggi-tingginya. Waktu adalah modal sekaligus merupakan amanah yang wajib dijaga. Waktu adalah perekam sejarah setiap insan di alam ini, apakah dia mulia atau nista. Tidak sedikit orang yang cukup potensial, tapi tidak bisa unggul karna tidak cerdas memenej waktu.
Yang menjadi persoalan sesungguhnya bukanlah terletak pada waktu, sebab semua waktu itu baik. Bukanlah Allah swt banyak bersumpah dengan semua waktu yang berlaku di alam ini? Demi masa (demi waktu ashar), demi waktu dhuha, demi malam, demi waktu subuh, demi waktu siang dan seterusnya. Pendek kata, tidak ada waktu sial dalam kacamata Allah seperti anggapan segelintir orang bingung di masa lalu dan kini. Yang menjadi masalah besar adalah bagaimana mengisi waktu dengan optimal.
Banyak strategi yang bisa kita terapkan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya ialah dengan memakai rumus: sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, atau sambil menyelam minum air. Rumus itu kita terapkan sebagai berikut, bekerja membutuhkan waktu berjam-jam, terkadang bisa seharian penuh.

Ada yang pagi berangkat ke kantor, lalu sore hari baru pulang, berarti sekitar 8 jam berada di tempat kerja. Dalam 8 jam seorang muslim dituntut mampu menyelesaikan sejumlah kewajibannya kepada Allah maupun manusia. Untuk itu, ia dapat berbisnis atau bekerja dengan berdakwah sekaligus. Modal utamanya ialah akhlak yang baik dan prestasi kerja yang tinggi.
Seorang businessman yang berakhlak mulia, pasti berprestasi tinggi. Akhlak yang baik adalah tonggak utama dakwah ilallah. Akhlak mulia merupakan senjata ampuh menarik orang dalam kebaikan. Sehingga

Nabi saw memproklamirkan :
Innamaa bu’itstu li-utammima makarimal akhlaak
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
Sebagai suritauladan orang-orang berakal, Beliau menarik hati manusia karna kemuliaan akhlaknya. Tuhan Allah pun menyanjungnya ketika Dia berfirman, “Dan sesungguhnya Engkau benar-benar berakhlak mulia.”(Qs.68 : 4).

Jadi jelas kunci utama dakwah adalah akhlak. Setiap muslim lebih membutuhkan kepada akhlak dari pada kepada yang lainnya, ia adalah kebutuhan primer yang harus dimiliki.
Waktu merupakan salah satu factor yang sangat menentukan, apakah seseorang akan tertinggal atau melesat maju. Makin banyaknya yang dapat dihasilkan per satuan waktu, berarti makin efisien ia bekerja. Proses berlomba dengan waktu antar individu terus berlangsung tiap detik. Mereka yang tidak sadar akan hal ini, akan kecurian start berkelanjutan oleh yang lain.
Yang perlu digarisbawahi ialah waktu itu terbatas, yaitu hanya 24 jam dalam sehari. Sementara masalah-masalah yang harus dituntaskan teramat banyak, maka system prioritas menjadi keniscayaan. Akhlak ternyata memperpendek penggunaan waktu.

Berbicara seperlunya berarti mengurangi waktu untuk ngobrol ke sana kemari, rasa tanggung jawab menuntut kerja nyata tanpa banyak kata, bersikap jujur dapat mengundang simpati orang lain, mereka dapat saja membantu pekerjaan kita dengan kerelaan, tugas pun selesai sebelum waktunya.
Kalau sadar, kaum muslimin pada umumnya adalah manusia super. Ia cerdas, ia juga terampil, punya semangat hidup tinggi, pada umumnya juga memiliki ketahanan fisik yang mumpuni dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dengan karunia semua itu, umat Islam mempunyai fondasi-fondasi modal yang kuat, yang menghantarkan kepada puncak kebahagiaan dan kesuksesan hidup di dunia ini apa lagi di alam baqo kelak.
Manusia dapat menjinakkan bom, mengarahkan pesawat. Tetapi manusia tidak akan mampu mengerem atau mengarahkan waktu menurut kehendaknya. Manusia hanya dapat menggunakan dan mengisi waktu. Tentang hal ini pun, kaum muslimin banyak diingatkan Al-Qur’an.
Bersamaan dengan itu, kita mungkin tidak merasa bersalah, walau sebenarnya kita telah menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang diketahui tidak ada manfaatnya.

Ada taushiyah yang bagus untuk kita renungkan dan kita amalkan:
Lisaanul haal aqwaa min lisaanil maqool”
‘Bahasa perbuatan lebih kuat dari pada bahasa perkataan.’
Artinya, perbuataan seseorang akan lebih berkesan dihati orang lain dari pada hanya sekedar berbicara. Dengan demikian pengaruhnyapun akan lebih berhasil di hati orang lain. Dari sinilah kaum muslimin dituntut untuk beramal terlebih dahulu hingga iapun menjadi qudwah bagi umatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar